Berdasarkan Perda Nomor 3 tahun 2015 sekitar bulan November tentang Kenaikan Retribusi Parkir, yang sebelumnya roda dua (motor) Rp 700 menjadi Rp 2.000, sedangkan roda 4 (mobil) dari Rp 2.000 menjadi Rp 3.000, membuat begitu banyak pro dan kontra yang terkandung di dalamnya. Disatu pihak merugikan bagi pihak jukir (juru parkir), disisi lain ini menjadikan suatu lahan bisnis yang potensial. Lalu kita sebagai masyarakat bagaimana menanggapi hal seperti ini? Manakah yang sebenarnya lebih baik, parkir otomatis atau parkir di pinggir jalan?

 

  1. Sistem keamanan

Sistem parkir secara otoomatis tentunya lebih aman, karena kendaraan yang masuk selalu terdata secara  tercatat maupun gambar. Adanya parkir otomatis mebuat anime masyarakat memilih parkir dalam mall. Meski sedikit mahal, tapi keamanannya bisa terjamin dengan fasilitas pengamanan seperti satpam serta video cctv. Selain itu juga memberikan perlindungan pada kendaraanmu dari kepanasan ataupun kehujanan, sehingga barang bawaan aman dari basah. Jika dilakukan secara manual seperti halnya parkiran di pinggir jalan, sehingga keamanannya menjadi kurang terjamin. Secara otomatis, parkir pinggir jalan malah sepi dan mengalami penurunan.

  1. Praktis dan lebih mudah

Parkir otomatis dapat membuat kendaraan  yang  diparkir  menjadi  lebih  teratur  dan

Keluar atau masuknya  kendaraan  akan  lebih  mudah.  Dengan  menggunakan  pc,  dapat menginformasikan  kepada pengendara untuk lokasi perparkiran yang masih memiliki tempat  kosong  dan  lokasi  perparkiran  mana  yang  sudah  penuh  ataupun  lokasi perparkiran  tersebut  sudah  penuh  sama  sekali.  Dengan  demikian  maka  pengemudi tidak perlu berputar-putar mencari lokasi yang masih memiliki tempat kosong. Sedangkan parkir di pinggir jalan cenderung diatur oleh jukir tanpa memperhatikan kenyamanan dari pengemudi. Terkadang malah saling berhimpit antara satu kendaraan dengan yang lain.

  1. Pengawasan  pemasukan finansial pendapatan daerah

Jika sistem parkir secaara otomatis, maka segala penganturan untuk biaya parkir telah ditetapkan tanpa merugikan antara satu pihak dengan yang lain. Jadi segala lebih jelas pembagian hasil  antara pemerintah dan pihak terkait. Berbeda dengan jukir yang terkadang liar dan pembagian hasil yang tidak jelas dan bekerja bukan di bawah pemerintah. Selain itu, parkir otomatis juga mencegah mal praktek oknum petugas parkir ilegal.

  1. Lebih tertib

Parkir pinggir jalan lebih cenderung dapat mengganggu lalu lintas apalagi jika parikiran tersebut tanpa seizin dari pemerintah. Akibat mengganggu lalu lintas, hal yang terjadi adalah mengurangi kapasitas jalan karena adanya pengurangan lebar lajur lalu lintas dan akibat terburuk adalah risiko untuk kecelakaan yang lebih besar. Oleh karena itu, mereka lebih memiliki untuk parkir otomatis yang tentunya tidak mengganggu lalu lintas dan pengaturan oleh sistem yang membuat parkir menjadi lebih tertib.

  1. Sanksi pidana

Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mematuhi ketentuan berhenti dan Parkir. Beberapa kenyataan terkadang kita tidak tahu asalkan ada jukir semua akan dikira aman begitu saja. Padahal kamu tidak tahu bahwa daerah tersebut termasuk dalam parkir ilegal. Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di jalan yang melanggar tata cara berhenti dan Parkir dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah). Begitulah peraturan pemerintah yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, sebagai pengemudi tetaplah berhati-hati untuk memarkir kendaraannya, jangan tertipu oleh parkir yang asal-asalan ingin meraup untuk dari sifat ilegalnya.